Meyakini Tuhan Yang Esa

Di dalam Islam kita yakin dengan tauhid. Tauhid tidak hanya berarti monotheisme atau hanya berarti percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maknanya sebenarnya lebih dalam daripada sekedar itu. Kata ‘tauhid’ berasal dari kata kerja bahasa Arab ’wahdah’ yang berarti menyatukan, mengkonsolidasikan, dan terdapat tiga kategori tauhid, yakni tauhid rububiyah. Ini kategori tauhid yang pertama. Kata ‘tauhid rububiyah’ berasal dari kata ‘rabb’ yang berarti ‘Tuhan’, ‘Yang Memelihara’. Artinya meyakini Tuhan Yang Esa. Konsep dasar pada poin ini adalah bahwa Allah SWT adalah suatu Dzat yang menciptakan semua makhluk yang ada. Dia tidak bergantung kepada apapun dan kepada siapapun, sebaliknya semua benda dan makhluk hidup bergantung kepada-Nya. Dia bersifat mutlak, sementara makhluk-makhluk Nya bersifat relatif, sementara dan bergantung. Kategori tauhid yang kedua adalah tauhid al-asma was-sifat, yang berarti meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT.

Secara pokok, ada lima poin dalam kelompok  kategori ini. Pertama, Allah harus disebut menurut/sesuai dengan apa yang Allah dan rasul-Nya jelaskan. Kedua, Allah harus disebut sesuai dengan apa yang Allah terangkan tentang diri-Nya. Tidak seorangpun yang boleh menyebut Allah SWT dengan sebutan ‘Sang Pemarah’. Al-Qur’an ada mengatakan tentang kemurkaan Allah namun itu tidak bisa menjadi alasan untuk menyebut-Nya dengan gelar yang demikian. Ketiga, anda tidak bisa menyematkan kualitas-kualitas yang bersifat kemanusiaan kepada Allah SWT, sebagaimana ada beberapa ayat di dalam Alkitab yang menerangkan bahwa setelah penciptaan alam semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa beristirahat karena mengalami kecapaian, dan ada beberapa ayat lain yang menyebutkan bahwa Tuhan menyesal. Lihatlah, tindakan menyesal, mengalami kecapaian adalah sifat perbuatan manusia (makhluk), bukan sifat tindakan Allah SWT. Dan kriteria untuk kategori ini terdapat di dalam surah Asy-Asyuura, surah ke-42, ayat 11, yang berbunyi, “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia..”. ayat tersebut berlanjut, “..dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Namun, perbuatan ‘mendengar’ dan ‘melihat’ ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh manusia dalam mendengar dan melihat. Karena, pada manusia, kita membutuhkan gelombang-gelombang suara dan panca indera telinga. Sebaliknya, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak membutuhkan ini semua. Jadi Allah SWT mendengar dan melihat dalam cara yang berbeda, bila dibandingkan dengan perbuatan mendengar dan melihat sebagaimana yang dilakukan oleh manusia.

Poin ke empat, gelar atau nama kepada Allah SWT tentulah gelar atau nama yang tidak bisa disematkan kepada makhluk yang lain. Misalnya, Anda tidak bisa menyebut makhluk manusia sebagai tidak memiliki awal dan akhir atau tidak mengalami kematian atau bersifat abadi. Anda tidak bisa memberikan gear ini (bersifat abadi) ini kepada makhluk manusia atau makhluk apapun ciptaan Allah SWT. Poin yang terakhir adalah Anda tidak bisa memberikan nama milik Allah SWT tanpa menyertakan kata ‘Abdu’.  Beberapa bentuk yang tidak spesifik seperti kata ‘rauf’, atau ‘rahim’ bisa diberikan tetapi bentuk yang spesifik tidak bisa diberikan tanpa awalan ‘abdu’. Misalnya ‘abdurrahman’, ‘abdurrahim’, Abdu berarti hamba, hamba Yang Maha Pengasih, hamba Yang Maha Penyayang, hamba Allah. Awalan ‘abdu’ ini hanya bisa disertakan dengan nama Allah ta’ala. Anda tidak bisa menyebut ‘abdurrasul’, yang berarti ‘hamba rasul’ atau, ‘abdul nabi’, yang berarti ‘hamba nabi’.

Kategori ‘tauhid’ yang ketiga adalah ‘tauhid al-ibadah’. Kata ‘ibada’ berasal dari kata bahasa Arab yakni ‘abdu’ yang berarti hamba. Kata ‘ibadah’ berarti ‘menyembah’ atau ‘menghamba’, tetapi banyak orang yang salah dalam memahami makna ‘menyembah’ yang dipahami hanya ‘berdoa’. Berdoa adalah salah satu bentuk penyembahan, namun bukan merupakan satu-satunya cara penyembahan. Sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya, kata ‘ibada’ berasal dari kata ‘abdu’, yang berarti ‘hamba’ atau ‘budak’. Jadi menyembah adalah mentaati setiap perintah yang disampaikan oleh Allah SWT. Ini berarti Anda melakukan penyembahan segala sesuatu yang tidak Anda lakukan karena Allah tidak pernah memerintahkannya, itu juga disebut dengan ibadah. Jadi, ibadah itu tidak hanya berarti berdoa (termasuk sholat), tetapi juga jauh dari itu. Jadi, mematuhi semua perintah Allah SWT juga berarti ibadah. Tanpa mematuhi tauhid kategori ketiga ini yakni ‘tauhid al-ibadah’, yang mempunyai keyakinan kepatuhan terhadap penyembahan dan hanya mengikuti dua kategori tauhid yang pertama, maka tindakan tersebut akan sia-sia belaka. Karena di dalam Al-Qur’an ada diceritakan bahwa dulu terdapat orang-orang yang menganut keyakinan paganisme dari kaum Arab yang hidup pada masa nabi yang hanya mengimani dua kategori tauhid yang pertama, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asma was-sifaat tetapi tidak meyakini kategori tauhid yang ketiga dan orang-orang yang seperti ini disebut sebagai kaum musyrikin dan kaum kafir, penyembah berhala dan pengingkar keimanan. Al-Qur’anul Karim dalam surah Yunus, surah ke-10, ayat 31, disebutkan “Katakanlah : Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ maka mereka akan menjawab : “Allah”. Maka katakanlah : “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” pesan yang serupa juga disebutkan di dalam surah Adz-Zukhruf, surah ke-43, ayat 87, yang berbunyi “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “siapakah yang menciptakan mereka?” niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?”.

Jadi, orang-orang Arab yang menganut keyakinan paganisme pada era kenabian, walaupun mereka memiliki konsep ketuhanan yang Esa, yang menyebut Tuhannya dengan sebutan Allah mereka mempunyai 360 berhala yang disembah. Jadi, jika Anda menyembah selain Allah ta’ala maka Anda tidak mengikuti kategori tauhid yang ketiga, yakni tauhid al-ibadah. Dan jika ada seseorang yang tidak mengimani kategori tauhid yang pertama, kedua atau ketiga, atau ada kecacatan dalam melaksanakan salah satu dari ketiga jenis/kategori tauhid tersebut maka perbuatan yang demikian disebut dengan syirik. Syirik berarti menyekutukan, atau bisa berarti juga berbagi dan dalam konteks keislaman, itu berarti menyekutukan Allah SWT. Dosa terbesar yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah dosa syirik, yakni menyekutukan Allah SWT dengan yang lain. Akan tetapi, syirik juga dapat berarti tidak memenuhi salah satu dari ketiga kategori tauhid tersebut, semua ini juga dapat mengarahkan kepada perbuatan syirik dan Al-Qur’anul Karim di dalam surah An-Nisa, surah ke-4, ayat 48, berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. Pesan yang serupa juga terdapat di dalam surah An-Nisa, surah ke-4, ayat 116, yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari dosa syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. Kemudian, disebutkan di dalam surah Al-Maidah, surah ke-5, ayat 72 “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun”.

Al-Qur’anul Karim mengatakan bahwa Yesus Kristus telah berkata “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. Ketika saya memulai presentasi saya di awal tadi sang qari telah membacakan ayat-ayat surah Ali Imran, surah ke-3, ayat 64, yang berbunyi “…marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu”. Apa yang menjadi ketetapan yang pertama? “…bahwa tidak kita sembah kecuali Allah..”. kalimat ketetapan tersebut tidak berbunyi “kita beriman kepada Allah Yang Esa”. Hanya sekedar beriman tidaklah cukup. Kalimat ketetapan tersebut berbunyi, “..bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun”. Jadi, hanya sekedar beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa tidaklah cukup Anda harus menyembah kepada-Nya.

Al-Qur’anul Karim dalam surah Al-An’am, surah ke-6, ayat 108 disebutkan “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”. Al-Qur’anul Karim dalam surah Luqman, surah ke-31, ayat 27 disebutkan “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“.

Saya ingin mengakhiri presentasi saya ini dengan mengutip ayat dari kitab suci Al-Qur’an yakni dari surah Al-Haj, surah ke-22, ayat 73, yang berbunyi,

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh perumpamaan itu, sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu, amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”.

baca dari awal : Konsep Ketuhanan

This entry was posted in Konsep Ketuhanan. Bookmark the permalink.

3 Responses to Meyakini Tuhan Yang Esa

  1. Barbie says:

    thanks for sharing with such material!http://www.notebok.org

  2. here says:

    Hey there, I just hopped over to your webpage thru StumbleUpon. Not somthing I might normally read, but I enjoyed your thoughts none the less. Thank you for making something worthy of reading through.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>