Konsep Ketuhanan

Dr.Zakir Naik dikenal luas karena kualitas pendekatannya yang logis, beralasan dan ilmiah. Beliau diakui karena kualitas pengetahuan perbandingan agama-nya mengenai agama Hindu, Yahudi, Kristen dan Islam, khususnya hafalan-hafalannya atas ayat-ayat dari beragam kitab suci tersebut. Topik situs ini adalah “Konsep Ketuhanan Dalam Agama-agama Besar”. Topik tersebut dipilih karena kita perlu memahami dan menyadari banyak hal tentang ketuhanan, yakni tentang siapakah Tuhan itu? Bagaimana seharusnya kualitas ketuhanan itu? dan yang terpenting kualitas-kualitas yang seperti apa yang tidak boleh disematkan kepada Tuhan. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh Dr.Zakir Naik mengenai konsep ketuhanan:

Bismillahirohmanirrohim,

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, permudahkanlah urusanku, dan permudahkanlah ucapan lisanku, sehingga mereka bisa memahami ucapanku”.

Orang-orang non-Muslim mungkin akan bertanya-tanya mengapa di awal kalimat saya ucapkan ayat-ayat seperti diatas? Saya tidak sedang mencoba membuat Anda menjadi terkagum-kagum kepada saya atau tidak sedang menghipnotis Anda. Saya hanya membacakan beberapa ayat suci Al-Qur’an dari surah Thaha, surah ke-20, ayat 25 dan 28.

Tatkala Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, menyuruh Nabi Musa (a.s) untuk menyampaikan pesan kepada Fir’aun, Nabi Musa (a.s) berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan membacakan ayat-ayat ini, “….Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, permudahkanlah urusanku, dan permudahkanlah ucapan lisanku, sehingga mereka bisa  memahami ucapanku”. Kita tahu bahwa Nabi Musa (a.s) adalah orang yang gagap, oleh karena itu beliau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dihilangkan rasa gagapnya dan agar dipermudah lisannya dan dihilangkan hambatanya dalam berucap serta dihilangkan hambatan kepada orang yang diajak bicara. Sehingga mereka bisa memahami ucapannya.

Jika seseorang menyampaikan presentasinya mengenai agama-agama orang lain, maka mereka yang hadir yang tidak termasuk kelompok agama orang yang bicara, akan cenderung berpikir bahwa orang ini akan berbicara hal-hal yang mendiskreditkan agama orang lain tersebut. Misalnya, ada seorang beragama Hindu yang akan menyampaikan pembicaraannya mengenai agama-agama selain Hindu, maka orang yang beragama selain Hindu mungkin akan merasa bahwa dia akan berbicara tentang hal-hal yang akan mendiskreditkan agama orang-orang non-Hindu tersebut. Demikian pula halnya, ketika saya sebagai seorang Muslim, menyampaikan presentasi mengenai agama-agama lain seain Islam, maka orang-orang yang non-Muslim mungkin akan berpikir saya akan mendiskreditkan agama selain Islam. Demikianlah alasannya mengapa saya berdoa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mempermudah lisan saya dalam berucap, dan untuk menghapuskan berbagai rintangan dalam pengucapan, termasuk rintangan-rintangan mental dan sebagainya, yang mungkin ada di antara Anda dan diri saya.

Agama, menurut definisi dari kamus Oxford, adalah ‘Keyakinan terhadap kekuatan supra-manusia yang mengendalikan, yakni kekuatan dari Tuhan atau para dewa, yang memang menurut keyakinan pengikutnya berhak untuk dipatuhi dan disembah. Al-Qur’an dari surah Al-Imran, surah ketiga, ayat 64, yang berbunyi,

“katakanlah : “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah”.

Apakah persyaratannya yang pertama? “…bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah..”.  Ini adalah ayat suci Al-Qur’an yang menyampaikan informasi kepada Anda tentang bagaimana caranya berbicara dengan komunitas-komunitas masyarakat yang berlatar belakang agama yang berbeda.

Satu hal yang umum yang terdapat di semua agama-agama besar di dunia adalah bahwa umumnya banyak orang beranggapan bahwa Tuhan yang disembah oleh seseorang, adalah sama dengan Tuhan yang disembah oleh orang lain. Misalnya, Tuhan yang disembah oleh orang-orang Hindu, diyakini sebagai Tuhan yang sama yang disembah oleh orang-orang non-Hindu. Lalu, Tuhan yang disembah oleh orang-orang Kristen diyakini secara awam sebagai Tuhan yang sama yang disembah oleh orang-orang non-Kristen. Demikian pula dengan Allah SWT, Tuhan yang disembah oleh orang-orang Islam diyakini pula sebagai Tuhan yang sama yang juga disembah oleh orang-orang non-Muslim.

Agama-agama besar di dunia dapat dikelompokkan secara umum kepada kelompok agama Semitik maupun kelompok agama non-Semitik. Agama-agama yang tergabung dalam kelompok agama non-Semitik dibagi lagi menjadi kelompok agama Arya dan non-Arya. Agama-agama Semitik adalah agama-agama yang dianut oleh bangsa-bangsa Semit. Siapakah bangsa-bangsa Semit itu? Bangsa-bangsa Semit adalah mereka yang menjadi keturunan dari ‘Shem’, putra Nabi Nuh (a.s), yang kisahnya disebutkan di dalam Alkitab, di dalam kitab Kejadian pasal 5 dan pasal 11. Jadi agama-agama Semitik adalah agama-agama yang dianut oleh orang-orang Yahudi, Arab, Asyrian dan Ponysian yang mereka berbicara dalam bahasa Ibrani, Aramatik, Arab, Acadian dan Ponysian, dan sebagainya.

Agama-agama terbesar di dalam kelompok agama Semitik adalah agama Yahudi, Kristen dan Islam, yang kesemuanya merupakan agama-agama yang dibawa oleh para nabi. Kelompok agama non-Semitik dibagi lagi ke dalam kelompok agama Arya dan non-Arya. Kelompok agama Arya adalah agama-agama yang dianut oleh bangsa Arya, kelompok masyarakat yang berbahasa Indo-Eropa dan mendiami wilayah Iran dan India Utara, pada pertengahan pertama abad kedua sebelum Masehi, yakni antara 2000 dan 5000 sebelum Masehi, agama Arya terbagi lagi menjadi agama Vedic dan non-Vedic. Agama Vedic adalah aliran ‘Brahaminisme’, yang sebenarnya sebutan tersebut dirasakan tidak tepat untuk istilah agama Hindu (Hinduisme). Kelompok agama non-Vedic adalah agama Sikh, Buddha, Jainisme, dan sebagainya.

Di antara agama-agama non Arya, terdapat agama-agama yang berasal dari wilayah Cina, seperti Taoisme, Konfusianisme, dan sebagainya. Serta agama yang berakar dari daratan Jepang, yakni Shintoisme, dan sebagainya. Walaupun begitu, sebagian besar agama ini tidak memiliki konsep ketuhanan. Mereka mempunyai apa yang disebut ‘sistem etika’, bukan dengan istilah agama. Berkaitan dengan pembicaraan kita pada hari ini, saya akan berbicara tentang “Konsep Ketuhanan Dalam Agama-Agama Besar”, dengan mengambil konteks agama dari kelompok agama Semitik dan Arya. Untuk memahami suatu konsep ketuhanan cara terbaik dan paling akurat adalah dengan meneliti ayat-ayat kitab sucinya dan memahami apa yang disebutkan di dalam agama tersebut mengenai konsep ketuhanan. Mencoba memahami konsep ketuhanan dengan melihat tingkah laku para pengikutnya adalah tidak selalu benar, karena sebagian besar dari para pengikutnya itu tidak tahu apa yang dijelaskan oleh ayat-ayat kitab sucinya itu mengenai Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita mencoba meneliti konsep ketuhanan yang terdapat di dalam agama-agama besar dunia, yakni dengan melihat ayat-ayat kitab sucinya. (baca selanjutnya..)

This entry was posted in Konsep Ketuhanan. Bookmark the permalink.

8 Responses to Konsep Ketuhanan

  1. Pingback: Agama Zoroasterisme | Konsep Ketuhanan

  2. Pingback: Agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam) | Konsep Ketuhanan

  3. Pingback: Konsep Ketuhanan dalam Islam | Konsep Ketuhanan

  4. Pingback: Meyakini Tuhan Yang Esa | Konsep Ketuhanan

  5. Thank you for your website post. Jones and I are already saving for a new book on this theme and your short article has made all of us to save our own money. Your thoughts really solved all our issues. In fact, a lot more than what we had known in advance of the time we came upon your wonderful blog. I actually no longer nurture doubts and a troubled mind because you have attended to each of our needs right here. Thanks

  6. Pingback: louis vuitton mens belt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>