Konsep Ketuhanan dalam Islam

Sekarang, mari kita bahas tentang konsep ketuhanan di dalam Islam. Jawaban terbaik yang bisa diberikan berkenaan dengan konsep ketuhanan di dalam Islam adalah surah Al-Ikhlas, surah ke-112, ayat 1 hingga 4,

“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tuhan itu ada, dan Dia menciptakan makhluk-makhluknya, ketika semuanya belum ada. Segalanya bergantung kepada-Nya, namun Ia tidak bergantung kepada siapapun. Dia tidak beranak dan tidak diperanakan. dan tidak ada sesuatupun yang dapat menyerupainya. Ini adalah definisi empat baris mengenai Tuhan Yang Maha Kuasa, yakni Allah SWT.

Surah Al-Ikhlas menjadi batu uji teologi. Dalam bahasa Yunani, kata ‘theo’ berarti Tuhan, dan kata ‘logos’ berarti ilmu/studi. Teologi berarti ilmu/ studi mengenai Tuhan. Surah Al-Ikhlas merupakan batu uji teologi. Bila seseorang ingin membeli atau menjual perhiasan emasnya, maka hal yang pertama yang ia harus lakukan adalah ia harus mengecek kualitas perhiasan emasnya. Dan untuk kepentingan itu, ia harus menemui si pandai emas. Si pandai emas akan mengeceknya dengan cara menggosok perhiasan emasnya di atas batu uji. Lalu, dia akan menilai warna emas tersebut dan memberi tahu Anda, apakah kadar beratnya 24 karat atau 22 karat atau bukan emas sama sekali. Bisa jadi itu merupakan emas palsu, karena semua yang berkilauan tidaklah selalu berupa emas.

Surah Al-Ikhlas merupakan batu uji teologi yang terdiri atas empat baris kalimat definisi. Jika Anda terapkan definisi tersebut kepada setiap pihak yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan ternyata misalnya ia selaras dengan ketentuan empat baris kalimat definisi yang termuat di dalam surah Al-Ikhlas, maka kami orang-orang Muslim tidak berkeberatan untuk menerimanya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Surah Al-Ikhlas merupakan batu uji teologi yang dapat membedah suatu perkara, serta untuk membuktikan apakah pihak yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan itu adalah benar Tuhan Yang Maha Kuasa atau bukan. Surah Al-Ikhlas merupakan batu uji teologi yang terdiri atas empat baris definisi. “Katakanlah Dia lah Allah, Yang Maha Esa. Hanya kepada-Nya semua bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Definisi ketuhanan yang terdiri atas empat baris kalimat. Siapapun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan berhasil melampaui ketentuan definisi ketuhanan yang termuat di dalam surah Al-Ikhlas ini, maka kami orang-orang Muslim tidak akan berkeberatan untuk menerimanya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Bhagwan Rajnesh, Osho Rajnesh adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya perjelas poin ini. Tadi, saya katakan, bahwa ada sebagian orang yang mengklaim Bhagwan Rajnesh adalah Tuhan. Orang-orang Hindu tidak mengatakan bahwa Bhagwan Rajnesh adalah Tuhan. Suatu kali, pada suatu sesi tanya-jawab dalam sebuah diskusi, ada seorang laki-laki yang beragama Hindu yang mengatakan mereka orang-orang Hindu tidak meyakini Bhagwan Rajnesh sebagai Tuhan. Orang-orang Hindu tidak mengatakan bahwa Bhagwan Rajnesh adalah Tuhan. Saya sudah mempelajari kitab suci agama Hindu dan saya temukan bahwa kitab suci agama Hindu tidak ada menyebut Bhagwan Rajnesh sebagai Tuhan. Saya katakan ada sebagian orang yang menyebutnya Tuhan dan Rajnesh memang memiliki banyak pengikut dari beragam latar-belakang. Mari kita uji dia dengan batu uji teologi, yakni dengan surah Al-Ikhlas.

Batu uji yang pertama, “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”. Apakah Rajnesh hanya dia seorang yang mengaku sebagai Tuhan? Kita tahu bahwa ada beberapa orang lain yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan, terutama di negeri India. Rajnesh bukanlah satu-satunya orang yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan. Tapi, mungkin saja pengikutnya akan membantah ini, dengan mengatakan, “Tidak, Rajnesh adalah satu-satunya”. Baiklah kita jalankan tes yang kedua. “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”. Lalu, apakah Rajnesh tidak bergantung kepada sesuatu? Kita tahu dari keterangan biografinya bahwa Rajnesh menderita penyakit diabetes, asma dan nyeri punggung yang kronis. Dan dia menuduh pemerintah Amerika Serikat telah meracunnya secara pelan-pelan. Bayangkan, bagaimana mungkin Tuhan bisa diracun? Tes yang ketiga, “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Kita tahu bahwa Rajnesh punya kedua orang tua, ibu dan bapaknya. Dia dilahirkan di Jabalpur di Madhya Pradesh, India. Ia seorang yang sangat cerdas. Kemudian berikutnya, kedua orang tuanya berubah menjadi muridnya sendiri.

Pada tahun 1981, Rajnesh pergi ke Negara Amerika Serikat, dan di wilayah Oregon, dia mengembangkan daerahnya tersebut dan menamainya ‘Rajneeshpuram’. Dia menunggangi negeri Amerika Serikat untuk kepentingannya. Berikutnya, pemerintah Amerika Serikat menahan, memenjarakan, dan mengusirnya keluar dari negeri Amerika Serikat. Pada tahun 1985, ketika ia diusir dari Amerika, dia balik lagi ke wilayah Poona, India. Di wilayah Poona, dia mulai membangun ‘Rajneesh Neo Sanyaas Commune’, Jika anda berkesempatan berkunjung ke Poona, ke daerah ‘Osho Commune’, maka anda bisa jumpai batu nisannya yang tertulis di atasnya ‘Osho’, yang berarti tidak pernah dilahirkan dan tidak pernah mengalami kematian, namun ia telah mengunjungi bumi dari tanggal 11 Desember 1931 hingga 19 Januari 1990. Sayangnya, mereka lupa untuk menceritakan perihal bahwa Rajnesh tidak berhasil mendapatkan visa dari 21 negara yang berbeda. Bayangkan, Tuhan Yang Maha Kuasa berkunjung ke bumi dan membutuhkan visa. Uskup Besar Yunani bahkan sampai mengatakan “Jika anda tidak mendeportasi Rajnesh, kami akan membakar rumahnya dan rumah semua pengikutnya”.

Tes yang terakhir, “Walam yakunlahu kufuwan ahad” (Tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya). Ayat uji itu berbunyi, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya”. Pada saat Anda membayangkan Tuhan lalu tampak bayang-bayang rupa dari pihak yang dianggap sebagai Tuhan tersebut kita tahu bahwa Rajnesh itu adalah manusia biasa, seperti  halnya dengan anda dan saya. Ia mempunyai satu kepala, dua buah tangan, dua buah kaki, dua buah mata, satu hidung, satu mulut, jenggot yang panjang yang menjulur ke bawah, dan rambut yang panjang. Gambaran fisiknya sedemikian jelas, gambaran yang seperti ini tentulah bukan Tuhan. “walam yakunlahu kufuwan ahad” (tidak ada yang serupa dengan-Nya). Dan tes dari ayat ini sedemikian ketat, sehingga tidak ada satupun yang mampu melampauinya, kecuali Allah ta’ala. Andaikan ada yang mengatakan bahwa Arnold Schwazenegger, yaitu orang yang bergelar ‘Mr. Universe’ tersebut adalah orang yang terkuat di dunia, dan ia coba bandingkan dengan Tuhan, lalu ia mengira-ngira bahwa kekuatan mungkin 1000 kali lebih besar daripada kekuatan yang dimiliki oleh Arnold, atau Dara Singh, atau King Kong, maka Tuhan yang ia bayangkan itu tentulah bukan Tuhan, karena tidak ada yang serupa dengan-Nya. Ini adalah definisi empat baris yang ada di dalam Al-Qur’anul Karim, yakni dalam surah Al-Ikhlas, yang menjadi batu uji teologi.

Kami orang-orang Muslim lebih suka untuk menyebut-Nya Allah SWT, dengan menggunakan kata dalam bahasa Arab, yakni Allah, bukan memanggilnya dengan sebutan Tuhan (God). Karena kata ‘Allah’ dalam bahasa Arab terasa murni dan unik. Kata ‘God’ (Tuhan) dalam bahasa Inggris dapat dipergunakan untuk beragam konteks makna. Jika anda tambahkan huruf ‘s’ pada kata ‘God’, maka kata tersebut akan berubah menjadi plural (Gods). Padahal tidak ada bentuk plural dari kata Allah di dalam Islam. Katakanlah: “Allah itu Esa”. Jika Anda tambahkan akhiran ‘dess’ pada kata Allah maka kata itu akan berubah menjadi ‘godness’ yang berarti Tuhan perempuan. Padahal di dalam Islam tidak ada Tuhan laki-laki atau perempuan. Kata ‘Allah’ itu unik, Dia tidak mempunyai jenis kelamin. Jika anda tambahkan satu kata, yakni kata ‘father’ (bapak) kepada kata ‘God’ (Tuhan), maka ia akan berubah menjadi ‘Godfather’ (Tuhan Bapa). Tidak ada di dalam Islam apa yang disebut Tuhan Bapa atau Allah Bapa. Jika Anda tambahkan kata ‘Mother’ (ibu) kepada kata ‘God’ (Tuhan), maka ia akan berubah menjadi ’Godmother’. Padahal di dalam Islam, tidak ada ‘Allah Mother’ atau ‘Allah Ibu’. Kata ‘Allah’ adalah kata yang unik, satu kata yang murni. Jika Anda taruh kata di depannya misalnya kata ‘thin’, maka kata tersebut akan berubah menjadi ‘Thin God’ (Tuhan yang kurus). Di dalam Islam tidak ada sebutan seperti itu. Itulah alasannya mengapa kami orang-orang Muslim lebih cenderung menyebutnya Allah SWT, dalam bahasa Arab bukan dengan sebutan ‘Tuhan’ (God). Namun, jika sebagian kaum Muslimin, mempergunakan kata ini (Tuhan/Gol) disaat ia tengah berkomunikasi dengan orang-orang non-Muslim, saya dapat memahami dan menerimanya, karena orang-orang non-Muslim tidak memahami konsep tentang ‘Allah’. Saya dapat menerimanya hanya kata/sebutan yang sebenarnya lebih tepat adalah kata/sebutan ‘Allah’.

Allah menyatakan di dalam Al-Qur’anul Karim, surah Al-Isra’, surah ke-17, ayat 110, “katakanlah: Serulah Allah dengan sebutan Ar-Rahman dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asmaul husna (nama-nama terbaik) …”. Anda bisa memanggil Allah SWT dengan nama/sebutan apapun, asalkan itu nama yang indah dan nama/sebutan tersebut tidak boleh menggambarkan suatu bayang-bayang mental. Terdapat tidak kurang dari 99 nama-nama Nya yang indah yang diberikan oleh Allah SWT yang termuat di dalam Al-Qur’anul Karim. Misalnya, nama ‘Ar-Rahman’, ‘Ar-Rahim’, ‘Al-Karim’ (Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, dan Yang Maha Mulia). Dia disebut juga ‘Rabb’ atau ‘Raziq’, atau Tuhan Yang Maha Melindungi, Yang Maha Menjaga, Yang Maha Memberi. Tidak kurang dari 99 nama-nama Nya yang indah yang disebutkan di dalam Al-Qur’anul Karim, yang diperuntukkan bagi Allah SWT. Keterangan yang sama ditemukan kembali di dalam surah Al-Isra’, surah ke-17, ayat 110, di dalam surah Thaha, surah ke-20, ayat 8, surah Al-A’raf, surah ke-7, ayat 180, surah Al-Hasyr, surah ke-59, ayat 24, yang berbunyi : “… Yang mempunyai nama-nama yang paling baik… “.

Namun, nama apapun yang anda sematkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, haruslah merupakan nama yang unik. Nama tersebut haruslah mengacu kepada Dia seorang saja, nama itu tidak bisa mengacu kepada pihak lain selain Dia.

Jika anda balik susunan kalimatnya dengan sebuah pertanyaan maka jawabannya mesti tetap mengacu kepada Allah SWT. Misalnya, tinggi saya adalah lima kaki sebelas inci saya memakai kacamata dan tinggal di Bombay. Jika seseorang berkata, “Tinggi Dr.Zakir Naik adalah lima kaki sebelas inci”. Maka itu adalah keterangan ciri yang tepat. Namun, bila kita balik susunannya, “Siapa yang tingginya lima kaki sebelas inci?” maka Anda bisa menjawabnya dengan seribu orang yang memiliki tinggi lima kaki dan sebelas inci jawaban tersebut tidak merujuk secara spesifik kepada diri saya. Dengan demikian itu tidak unik. Jika anda katakan bahwa Dr.Zakir Naik mengenakan kacamata, keterangan itu benar, namun tidak unik. Karena jika anda balikkan susunannya dengan mengajukan pertanyaan, “Siapa yang mengenakan kacamata?”. Maka ada seribu orang yang mengenakan kacamata. Jika ada yang mengatakan bahwa Dr.Zakir Naik tinggal di Bombay maka keterangan orang itu benar, namun keterangannya tidak unik. Oleh karena itu, nama yang hendak Anda sematkan kepada Tuhan, hendaklah nama yang unik.

Misalnya, jika ada yang berkata “Dr.Zakir Naik adalah bapak dari Fariq Zakir Naik yang dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1994, di rumah persalinan Jahangir, di wilayah Poona. Keterangan tersebut merupakan keterangan yang unik. Demikian pula dengan contoh berikut ini, Dr. Zakir Naik adalah ketua pendiri Badan Perwalian Pendidikan IRF (IRF Educational Trust) yang didirikan pada tanggal 6 November 1992 di Dongri, Mumbay. Jika anda ajukan pertanyaan “Siapakah ketua pendiri Badan Perwalian Pendidikan IRF yang didirikan pada tanggal 6 November 1992 di Dongri, Mumbay, tentu jawabannya hanya satu, yakni Dr.Zakir Naik. Demikian pula halnya, jika anda menyebut Allah SWT dengan nama/gelar/sebutan apapun maka nama/gelar/sebutan tersebut mestilah unik.

Anda tidak bisa menyebut Allah SWT sebagai ‘Sang Pencipta Bangunan’ karena banyak pihak lain yang juga bisa melakukan perbuatan tersebut. Anda bisa menyebut-Nya ‘Sang Pencipta Alam Semesta’, atau ‘Khaliq’ (Sang Pencipta). Siapa sang pencipta itu? Maka jawabannya hanya satu, yakni Allah SWT. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), siapa yang Maha Pengasih itu? Jawabannya hanya satu, yakni Allah SWT. Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), siapa Yang Maha Penyayang itu? Jawabannya hanya satu, Allah SWT. Jadi, nama atau gelar yang diberikan tersebut mestilah unik. Contoh yang tadi saya kemukakan mengenai diri saya tadi juga unik, namun tidak mengandung unsur kebesaran apapun. Menjadi ketua pendiri badan perwalian pendidikan IRF (IRF Educational Trust) tentu bukanlah satu hal yang besar, boleh saja itu merupakan sesuatu hal yang unik, namun hal tersebut tidak mengandung kebesaran apapun. Mengenai Allah SWT, disamping ia itu unik, ia juga Maha Besar atau Maha Perkasa. Menjadi orang tua dari Fariq Zakir Naik bukanlah suatu hal yang besar, namun itu adalah suatu hal yang unik. Berbeda dengan nama-nama indah yang dimiliki Allah SWT selain unik juga mengandung kebesaran atau kehebatan. Anda tidak bisa memberikan gelar atau nama yang biasa-biasa saja, yang anda dan saya sendiri bisa melakukannya.

Hal yang kedua, di samping memberikan nama atau gelar yang unik, tidak diperbolehkan untuk memberikan pensifatan yang bukan milik Allah SWT. Misalnya, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Dr.Zakir Naik adalah orang tua dari Fariq Zakir Naik yang dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1994 di rumah persalinan Jahangir, di wilayah Poona, dan memiliki tinggi 4 kaki. Pemberian atribut itu tepat. Saya memang orang tua dari orang yang tadi disebutkan, namun tinggi saya tidaklah empat kaki, melainkan lima kaki sebelas inci. Jadi, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan mempunyai bentuk seperti layaknya manusia sebagaimana diri Anda dan saya, Sang Pencipta-nya benar, namun karakteristik kemanusiaannya yang keliru. Jadi, walaupun gelarnya unik namun tetap tidak boleh dicampur-baurkan dengan gelar atau nama-nama yang keliru/palsu.

Kemudian, poin ketiga, beragam gelar yang diperuntukkan bagi Allah SWT harus mengacu hanya kepada Allah SWT tidak boleh lebih dari itu, karena hanya ada Allah Yang Satu/Esa. “Katakanlah : Allah itu Esa”. Jadi, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Dr.Zakir Naik adalah ayah dari Fariq Zakir Naik yang dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1994 di rumah persalinan Jahangir, Poona, dan Abdullah Syaikh adalah ketua pendiri badan perwalian pendidikan IRF yang didirikan pada tanggal 6 November 1992 di Dongri, Mumbay, maka satu penamaan gelar sudah tepat disematkan kepada diri saya malah disematkan kepada diri orang lain. Sementara Abdullah Syaikh dan Dr. Zakir Naik bukanlah pribadi yang sama. Jadi, Anda tidak bisa mengatakan bahwa ‘Khalik’ atau ‘Sang Pencipta’ adalah Tuhan sementara ‘Ar-Rahim’ atau ‘Sang Penyayang’ adalah Tuhan yang lain. Jika ada yang mengatakan ‘Tuhan hujan’ (Tuhan yang bertugas menurunkan hujan) berbeda, ‘Tuhan matahari’ berbeda, ‘Sang Pencipta’ berbeda, ‘Sang Pemelihara’ berbeda. Semua yang seperti ini sepenuhnya keliru. Penamaan gelar tersebut benar, namun penamaan itu seharusnya merujuk hanya kepada satu pihak saja dan tidak ada kepada pihak yang lain.

Orang-orang mungkin saja mengajukan satu pertanyaan ini kepada saya, “Apa salahnya mempunyai Tuhan yang lebih dari satu?” kaum Polytheis mungkin saja mengajukan pertanyaan tersebut kepada Dr. Zakir Naik mengenai apa yang keliru bila mempunyai Tuhan yang lebih dari satu? Jika kita mempunyai Tuhan yang banyak maka akan terjadi pertikaian di antara Tuhan-Tuhan tersebut, Tuhan yang satu akan mencoba mengalahkan Tuhan yang lain dan mencoba menanamkan kekuasaannya. Mungkin orang-orang lain akan mengatakan “Lihatlah, kita bisa membaginya, Tuahn yang satu mengatur urusan hujan (God of rain), Tuhan yang lain mengatur matahari (God of sun) dll, jika kita membaginya dengan cara yang seperti itu, lalu kita mempunyai Tuhan yang banyak, itu berarti Tuhan yang satu tidak mempu mengerjakan urusan Tuhan yang lain. Artinya, Tuhan tersebut tidak memiliki kemampuan pengetahuan sebagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh Tuhan yang lain. Jika demikian, Tuhan tersebut adalah ‘Tuhan yang berkekurangan’, bukan Tuhan yang sempurna.

Kita tidak seharusnya beriman kepada ‘Tuhan yang berkekurangan’, kita seharusnya beriman kepada Tuhan Yang Maha Sempurna. Tidaklah mengherankan bila Anda dapat menjumpai kisah-kisah mitologis di dalam keyakinan beragama dalam agama-agama tertentu di mana Tuhan-Tuhan tersebut bertikai antara yang satu dengan yang lain. Tuhan yang satu membunuh Tuhan yang lain, sementara satu Tuhan meminta bantuan kepada Tuhan yang lain untuk mengalahkan Tuhan yang lain lagi. Kisah-kisah seperti ini terdapat di dalam mitologi. Al-Qur’anul Karim memberikan jawaban atas perkara ini, yakni di dalam surah Al-Anbiya’, surah ke-21, ayat 22, yang berbunyi, “Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa..”. Kita paham di dalam alam semesta ini tidak terdapat kekacauan (pengaturan). Alam semesta ini berjalan secara harmonis. Lebih jauh disebutkan di dalam surah Al-Mu’minun, surah ke-23, ayat 91, yang berbunyi : “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan (lain) beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk ciptaan-Nya, dan sebagian dari Tuhan-Tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain”. Jadi, sebenarnya memang  hanya ada satu Tuhan.

Jika anda cermati semua agama yang berbicara tentang konsep ketuhanan semuanya berakhir kepada kepercayaan monotheisme, setiap agama meyakini konsep ketuhanan agama tersebut mestilah akan berakhir pada keyakinan adanya satu Tuhan. Ini terjadi pada tingkat yang tinggi. Di tingkat yang lebih bawah, mungkin terdapat keyakinan pada Tuhan-Tuhan yang lain, namun pada tingkat yang lebih tinggi, keyakinan tersebut akan bermuara pada keyakinan terhadap Tuhan yang satu saja. Jika anda pelajari kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Semuanya berbicara tentang konsep yang benar tentang ketuhanan. Namun, pada perkembangan berikutnya, kitab-kitab suci tersebut mengalami menipulasi, pengubahan-pengubahan, dan pengurangan-pengurangan. Mengapa demikian? Karena orang-orang tersebut telah memasukkan kepentingan-kepentingan keduniawian mereka ke dalam kitab-kitab suci mereka tersebut. Dan akhirnya, Anda kemudian mendapai perubahan dalam sifat agamanya yang semula adalah agama monotheisme menjadi agama yang politheisme atau agama yang pantheisme.

Al-Qur’anul Karim dalam surah Al-Baqarah, surah ke-2, ayat 79, menyebutkan “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri,” lalu dikatakannya: “Ini dari Allah (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. Al-Qur’anul Karim mengatakan bahwa ada orang-orang yang telah mengubah ayat-ayat Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kebutuhan dan kepentingan keduniawiannya. Kecelakaan besarlah pada orang-orang yang berbuat demikian itu. Terdapat agama-agama terentu seperti agama Budha, Konfusianisme, Taoisme, yang kesemuanya tidak berbicara tentang (adanya) Tuhan. Agama-agama tadi tidak mendukung tetapi juga tidak menyangkal keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Agama-agama yang seperti ini desebut sebagai agama agnostik. Kita punya bentuk agama yang lain seperti agama Jainisme yang bersifat atheistik, Agama Jainisme ini menyangkal keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Berkenaan dengan persoalan bagaimana caranya untuk membuktikan keberadaan Tuhan, Allah SWT, kepada penganut atheisme atau agnotisisme, Anda bisa merujuk kepada kaset video saya, yang berjudul “Apakah Al-Qur’an itu Firman Tuhan? Bagian kesatu dan kedua. Pembahasan tentang masalah ini sudah pernah saya ungkap di auditorium Birla Mathushree pada dua tahun yang lalu. Di sini saya telah membuktikan kepada orang-orang atheis, agnostik, kaum Muslim, Kristen, Budha, penganut Jainisme, dan kaum ilmuwan, dengan menunjukkan kepada amereka argumentasi yang masuk akal, logis dan ilmiah, serta dengan bersandarkan kepada kitab suci Al-Qur’an mengenai perkara keberadaan Allah SWT. Jadi bagi yang ingin mengetahui bagaimana caranya untuk membuktikan tentang kebenaran keberadaan Allah SWT. Kepada mereka yang menganut keyakinan/paham atheisme atau agnotiisisme, silahkan Anda melihat kaset video saya. (baca selanjutnya..)

baca dari awal : Konsep Ketuhanan

This entry was posted in Konsep Ketuhanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>