Agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam)

Sekarang, mari kita bahas agama-agama Semitik. Agama-agama Semitik yang tergolong besar adalah agama Yahudi, Kristen dan Islam. Pertama-tama, kita akan membahas konsep ketuhanan di dalam agama Yahudi. Disebutkan di dalam kitab Perjanjian Lama bahwa Nabi Musa (a.s) bersabda di dalam kitab Ulangan, pasal 6 ayat 4, “Shama Isrelo Adna ilahaina adna ihat”. Kalimat tadi adalah kutipan dalam bahasa Ibrani yang berarti ‘Dengarlah wahai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu satu’. Ini berarti Tuhan Yang Esa. Disebutkan di dalam kitab Yesaya pasal 43 ayat 11. “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku”. Disebutkan juga di dalam kitab Yesaya, pasal 45, ayat 5, “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain”. Di dalam kitab Yesaya pasal 46 ayat 9 disebutkan, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku..” dalam kitab Keluaran, pasal 20, ayat 3 hingga 5, Allah berfirman “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya sebab Aku, TUHAN, Allah mu, adalah Allah yang cemburu..”. Bunyi ayat yang sama juga terdapat pada kitab Ulangan, pasal 5 ayat 7 hingga 9, “jangan ada padamu Allah lain di hadapan Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu..”.

Jadi jika Anda membaca kitab Perjanjian Lama, Anda akan bisa memahami konsep ketuhanan dalam agama Yahudi yakni percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sepenuhnya melarang keras perbuatan penyembahan kepada berhala-berhala. Sebelum kita lanjutkan pembahasan mengenai konsep ketuhanan di dalam agama Kristen. Saya ingin memperjelas beberapa poin terlebih dahulu. Islam adalah satu-satunya agama di luar Kristen yang menetapkan pernyataan keimanan percaya kepada Yesus (Isa a.s.). Tidak ada seorang Muslim yang bisa dikatakan Muslim, jika ia tidak percaya kepada Yesus/Isa (sebagai nabi dan rasul Allah). Kami meyakini bahwa ia (Yesus) adalah salah satu rasul Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami percaya bahwa ia dilahirkan secara mukjizat, tanpa adanya intervensi peran laki-laki, di mana banyak orang-orang Kristen pada masa sekarang yang sudah tidak mempercayai mukjizat itu lagi. Kami percaya bahwa ia mampu menghidupkan orang mati dengan seizing Nya. Kami percaya bahwa ia mampu menyembuhkan kebutaan seseorang yang dibawa sejak lahir, dan mampu menyembuhkan penyakit kusta dengan seizing dari Allah SWT.

Banyak hal yang sama antara orang-orang Kristen dan orang-orang Muslim, namun begitu, ada hal-hal yang membedakan. Orang Kristen mengatakan dengan keyakinannya bahwa Yesus Kristus (Isa a.s) adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yesus sendiri mengakui perihal ketuhanannya. Kenyataannya, jika Anda baca di dalam Alkitab, tidak terdapat satupun pernyataan di dalam Alkitab yang ada Yesus mengatakan langsung dari dirinya berupa kalimat “Akulah Tuhan”, atau kalimat, “Sembahlah Aku”.

Saya merasa perlu untuk mengulangi keterangan tadi. Tidak ada satu ayatpun di dalam Alkitab yang Yesus sendiri ada mengatakan langsung dari dirinya berupa kalimat “Akulah Tuhan”, atau kalimat, “Sembahlah aku”. Sebaiknya, jika Anda baca Alkitab, disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 14, ayat 28, Yesus berkata, “…sebab Bapa lebih besar dari pada Aku”. Disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 10, ayat 29, ”Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun..”. Di dalam kitab Injil Matius, pasal 12 ayat 28 disebutkan “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah..”. di dalam kitab Injil Lukas, pasal 11 ayat 20, disebutkan, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah..”. disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 5 ayat 30, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, Aku mengakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”. Yesus tidak pernah menyatakan perihal ketuhanannya. Sebaliknya, Yesus datang untuk menggenapi hukum yang sudah ada sebelumnya (syariat Musa). Sebagaimana yang beliau jelaskan di dalam kitab Injil Matius pasal 5 ayat 17 hingga 20,

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan Bumi ini, satu kata atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu : jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

Jadi Yesus Kristus berkata “Jika Anda ingin masuk ke dalam kerajaan surga, Anda harus mematuhi setiap ketetapan perintah yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s”. Anda harus mematuhi setiap perintah yang termuat di dalam Perjanjian Lama termasuk ayat-ayat yang tadi saya kutipkan, yakni bahwa hanya ada satu Tuhan dan Anda dilarang untuk menyembah kepada berhala. Anda juga dilarang untuk membuat gambaran (penampakan/rupa) tentang Dia. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa dirinya diutus oleh Tuhan, dia adalah rasul utusan Tuhan. Disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 14 ayat 24, “Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku”. Di dalam kitab Injil Yohannes pasal 17 ayat 3, “inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”.

Disebutkan pula di dalam kitab Injil Matius, pasal 19, ayat 16 dan 17 “Ada seorang dating kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik, tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah”. Jadi, jika Anda ingin bisa masuk ke dalam kerajaan surga, patuhilah perintah Tuhan, Yesus tidak pernah mengatakan bahwa jika Engkau ingin masuk ke dalam kerajaan surga sembahlah aku sebgai Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia akan mati untuk menebus dosa-dosa kalian. Sebaliknya, dia mengatakan “Patuhilah perintah Tuhan”. Lebih jauh, disebutkan di dalam kitab Kisah Para Rasul, pasal 2 ayat 22, “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini, yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seseorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah, dengan perantaraan Dia di tengah-tangah kamu, seperti yang kamu tahu”. Ayat tersebut berbunyi. “Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah, dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu”. Dan ketika Yesus ditanya perihal perintah yang pertama, beliau menjawabnya secara lisan dengan mengutip keterngan yang sebelumnya telah disampaikan oleh Nabi Musa a.s., dan ini termuat di dalam kitab Injil Markus, pasal 12 ayat 29, “Shama Israelo Adna ilahaina adna ihat”. Kutipan dalam bahasa Ibrani tersebut berarti, “Dengarlah wahai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa”. Jadi jika Anda membaca Alkitab maka Anda akan memahami konsep ketuhanan di dalam agama Kristen.

Saya teringat dengan satu kejadian yang dialami oleh Maulana Rahmatullah Karanvi. Beliau waktu itu tengah berdiskusi dengan misionaris Kristen yang tengah membuktikan kepadanya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan bahwa Yesus Kristus mati untuk menebus dosa-dosa manusia. Setelah diskusi itu berjalan cukup lama tanpa hasil tiba-tiba seorang pembantu Maulana masuk ruangan dan membisikkan sesuatu ke telinga Maulana. Sontak segera setelah itu, tiba-tiba wajah Maulana berubah menjadi sangat sedih, dia lalu menangis. Misionaris tersebut merasa heran, lalu bertanya, “Maulana, ada berita buruk apa?” Maulana tersebut menjawab dengan nada yang sedih, “Pembantuku baru saja memberitahuku, dia mendapat kabar bahwa malaikat Jibril telah meninggal”. Mendengar itu, si misionaris Kristen ini serta-merta tertawa terbahak-bahak. Ia berkata kepada Maulana, “Maulana, Anda orang yang cerdas, bagaimana mungkin Anda bisa percaya dengan hal-hal yang janggal seperti itu? mana mungkin malaikat bisa mati?” Maulana segera menjawab, “Jika Tuhan saja bisa mati, mengapa malaikat tidak bisa mati?” Mendengar itu, si misionaris Kristen segera bergegas meninggalkan tempat itu tanpa bicara sedikitpun. Ini adalah suatu bentuk ‘permainan kecerdasan’. (baca selanjutnya..)

baca dari awal : Konsep Ketuhanan

This entry was posted in Konsep Ketuhanan. Bookmark the permalink.

6 Responses to Agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam)

  1. Dirce says:

    every time i come here i am not disappointed. nice post.http://www.yugiohrpgonline.net

  2. My brother suggested I might like this web site. He was totally right. This post actually made my day. You can not imagine just how much time I had spent for this info! Thanks!

  3. Pingback: Google

  4. chiisai says:

    Really good, terimakasih pak. Jadi tahu sekarang :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>